RENUNGAN ROHANI, Setia Dengan Proses


Setia Dengan Proses

Hidup tampaknya tidak berlaku lunak pada segelintir orang, dan tampaknya hal ini pun terjadi pada seorang lelaki yang harus terlatih berjuang menata kehidupannya. Kata nyata sangatlah jauh dari kehidupannya yang begitu sederhana. Ia harus terus berusaha untuk mewujudkan mimpinya namun apa daya tubuhnya yang kecil dan rentan membuatnya mendapat julukan “areke ringkihan” . Semasa kecilnya, waktu ia duduk dibangku Sekolah Dasar ia seringkali pingsan saat upacara dan langsung dibawa oleh teman-temannya keruangan guru lalu diberi teh hangat. Pingsan disekolah adalah hal yang biasa dialaminya, tapi ada satu momen dimana saat ia sedang kerja bakti bersama dengan teman-temannya tiba-tiba arit yang dibawanya untuk memotong rumput itu terlempar keudara, nyaris saja mengenai temannya. Sontak hal ini mengejutkan teman-temannya, dan saat mereka memalingkan wajahnya untuk melihat apa yang terjadi dengannya. Tiba-tiba ia sudah kejang-kejang dengan busa keluar dari mulutnya, badannya juga panas sekali, langsung saja anak ini digendong oleh Pak Ritonga dan dibawa pulang kerumahnya.

Tentu saja orang-orang yang ada dirumah sangat kaget dengan kondisinya yang demikian. Pak Ritonga bilang anak ini harus dibawa berobat agar kondisinya tidak terus-menerus begini. Pak Ritonga adalah guru olahraga yang kebetulan sedang bertugas mengawasi anak-anak kelas empat SD. Siang itu juga orangtuanya langsung membawa anaknya berobat ke seorang mantri yang cukup terkenal diseluruh desa. Buah labu yang dipotong tipis diselipkan diketiaknya, orang-orang percaya bahwa labu dapat mengurangi panasnya demam yang tinggi. Sepanjang perjalanan tangan lembut ibunya terus mendekap erat tak ujung terlepas menjaga anaknya dalam perjalanan yang ditempuh menggunakan sepeda itu. Lebih dari enam kilometer jauhnya rela dikayuh demi kesembuhan anaknya.

Arif sasmito itulah namanya, nama yang gagah yang diberikan oleh orangtuanya kepadanya. Arif memiliki arti orang yang bijak, yang mengetahui banyak hal, pandai membuat keputusan dengan matang, tidak gegabah dan bijaksana. Demikian nama itu disematkan kepadanya yang menjadi doa dan harapan bagi orangtuanya, kelak ia bisa sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga.

Terlahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara membuatnya menjadi adik kesayangan dari kakak-kakak nya. Keluarga Arif sangatlah sederhana. Ibunya adalah seorang penjual jamu keliling yang ditawarkan kerumah-rumah warga. Sedangkan Ayahnya adalah seorang buruh tani diladang orang. Nasi yang dicampur dengan peratan butir jagung sambil diberi karak yang telah digoreng, dengan rebusan daun bayam sebagai lauknya menjadi makanan sehari-hari keluarganya.

Hari demi hari berlalu, sampai pada akhirnya Arif dapat menyelesaikan sekolahnya di Sekolah Menengah Pertama. Arif memiliki keinginan untuk bisa melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi, namun orang tuanya sudah berpesan bahwa “le, mamak ambek bapak terus terang ga ono biaya gae nyekolahno koe neh, dewe berdoa ae yo le, mugo-mugo gusti maringi berkat, ben koe iso lanjut sekolah.” Ujar ibunya dengan berat hati mengatakannya. Dengan berat hati pula Arif menerima perkataan kedua orang tuanya. Lagi-lagi Arif disadarkan oleh sebuah keadaan yang mewakili bahwa, hidup ini keras dan tidak mudah ditaklukan. Apalagi pada orang yang awam dan tidak tahu apa-apa soal perkembangan zaman. Apa yang bisa dikerjakan oleh seorang tamatan Sekolah Menengah Pertama. Memangnya ada pekerjaan yang layak untuk dia, selain yahhh… menjadi buruh tani didesa. Itu saja biasanya hanya diupah makan, tak banyak uang yang bisa diharapkan dari pekerjaan yang ada didesa. Hal ini yang membuatnya untuk berani keluar dari zona nyaman.

Saat matahari mulai menyinarkan semangatnya hari, pagi itu Arif telah selesai membersihkan tubuhnya. Saat ia sedang minum teh manis yang disajikan oleh tangan manja dari ibunya, tiada disangka bahwa Masnya yang nomor dua datang dari kota Jakarta. Sontak Mito langsung berteriak “Mas Anto tekoooo makkk…” ia berlari menghampiri orangtuanya, sungguh sangat senang tak karuwan rasa hatinya, karena sudah lama tak bersua dengan Masnya. Ia melihat saudara laki-lakinya dengan tatapan terheran-heran, dalam hati ia berkata ‘putih banget mas ku iki, opo urip nang jakarta iso muteh ne kulit yo’. Remaja yang memiliki nama kecil Mito ini, mendapatka tawaran dari Masnya bahwasannya ada seorang kaya yang ingin mencari remaja yang akan diangkat menjadi anaknya, otomatis ia akan disekolahkan oleh orang tua angkatnya tersebut.

Malam itu adalah malam yang sulit untuknya dan juga untuk kedua belahan jiwanya. Anak yang paling bontot dan paling disayang akan pergi jauh dari pemandangan orang tuanya. Sebuah keputusan yang sangat berat untuk melepasnya menjadi anak angkat dari orang yang belum dikenal dengan akrab. Namun sudah menjadi kesepakatan orang tuanya bahwa tetap merelakan Mito merantau ke Jakarta bersama dengan Masnya. Mito pun merasakan hal yang sama dengan berat hati ia juga mengemasi barangnya. Tiada disangka harus berpisah begini, walaupun sementara tetap saja akan ada rasa rindu yang begitu mendalam disetiap waktunya.

Keesokan harinya, waktu sudah menunjukan pukul enam pagi waktunya untuk berangkat ke terminal bus. Cukup jauh jaraknya dari desa menuju kota tempat dimana bus-bus mangkal. Pagi itu Mito dan Masnya dihantarkan ke terminal bus dengan menaiki angkot yang ditarik oleh Bakhtiar tetangganya, setelah itu barulah mereka menuju ke Jakarta. Yaahh… dengan membawa pakaian yang seadanya dan serundeng sebagai persediaan makanan yang kira-kira cukuplah untuk beberapa kali makan. Hari itu menjadi awal bagi Mito untuk bisa pergi ke Kota dimana terletak Bangunan Monas yang Tinggi sekali.

Baru saja hari pertama sampai disana, dia sudah diperhadapkan dengan berbagai macam pekerjaan. Tangan kecilnya meronta ‘akankah aku terbiasa dengan semua ini’. Setiap harinya ia harus bangun jam empat pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti: menyapu, mengepel, memandikan anjing, tak tanggung-tanggung ada lima ekor anjing yang harus senantiasa ia jaga dan perhatikan, belum lagi dia harus mencuci tiga mobil pribadi. Ia juga harus pergi kesekolah, dengan kepala yang berat karena kurang istirahat ia harus tetep menjalani pendidikannya. Seusai sekolah masih banyak juga aktivitas yang harus dilakukan ia harus mempersiapkan makanan bagi hewan peliharaan tuannya, ia juga harus mencuci baju, menyetrika pakaian, melipat dan menyusunnya dilemari. Semua pekerjaan yang ada dirumah dipegang olehnya, bahkan sampai menggunting rumput yang ada ditaman itupun dikerjakannya. Ia tidak bisa langsung pergi tidur dengan seenaknya, ia harus menunggu semua orang rumah pulang baru ia akan mengunci pintu pagar besinya. Seringkali ia ketiduran di samping pintu gerbang tersebut karena ia menunggu terlalu lama sampai jam sebelas malam. Saat semua sudah tiba dirumah barulah ia bisa pergi tidur kekamarnya. Begitupun seterusnya sampai ia lulus SMA.

Silih berganti rintangan dan tantangan yang dihadapinya. Rasa rindu bergulat dengan kondisi yang ada. Hatinya menjerit ingin pulang, namun ia teringat kata ibunya yang satu lewat telepon umum sore itu. “Loh le, koe ojo balek toh yo, nek koe balek arep dadi opo engko, mamak ambek bapak selalu berdoa gae koe men kuat, engko nek wes enek berkat, bapak karo mamak nang Jakarta yoo nilek ii koe. Koe seng sabar, seng tabah, bertahan sampe akhir.” Kata-kata itu yang selalu menguatkan hatinya untuk menjalani hari-harinya. Arif berharap setelah ia lulus dari SMA, ia bisa dipekerjakan di kantor bapak angkatnya yang berAC itu. Yaa itu memang benar, namun jauh dari apa yang diimpikan oleh Arif. Dia malah ditempatkan di bagian lapangan yang membuatnya harus bergelut dengan terik matahari dan debu material bangunan setiap harinya. Tubuhnya yang kecil dan lemah, perlahan terlatih menjadi tubuh yang kuat dan berotot kekar. 

Bekerja sebagai kuli bangunan disebuah proyek, membuatnya mengerti betapa keras dan sulitnya menjadi seorang kuli. Dimaki, didorong, disepak, adalah makanannya setiap hari. Pada suatu titik dia diuji oleh Bosnya, dia dipercayakan uang yang cukup besar nominalnya. Uang itu jika dibelikan bahan bangunan maka akan sisa. Bosnya sengaja memberi dia uang lebih agar menguji kejujuran si Arif, pikir Bosnya apakah uang yang sisa ini akan dikembalikan atau malah dikorupsi. Teman sekerja Arif yang bersama-sama dengan dia mempengaruhinya untuk menggelapkan kwitansi barang yang telah dibeli itu. Dengan teguh Arif menentang perkataan teman-temannya tersebut. “Ahh bego lu rif, Muna lu, sok suci tau ga” semua teman-temannya memakinya. Arif tak menghiraukan perkatan-perkataan tersebut, sepanjang perjalanan pulang Arif hanya memilih untuk diam dan bersikap biasa saja sampai ia bertemu dengan Bosnya.

Setelah kembali Arif menyerahkan semua catatan belanjaan disertai bukti pembelanjaannya, tak lupa juga ia memberikan seluruh uang yang tersisa tanpa ada yang dikorupsi sepeserpun. Dari situlah Arif mulai mendapat banyak kepercayaan dari Bosnya. Mulai dari memegang proyek pembangunan Jembatan Suramadu, mengawasi jalannya proses pembangunan tower listrik yang ada di daerah pegunungan, serta tugas-tugas lainnya. Arif selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu. Seorang Arif yang dulunya tidak dianggap oleh orang yang ada disekelilingnya, berubah menjadi seorang yang disegani banyak orang.

 Bertahun-tahun lamanya Arif mengabdi kepada perusahaan tersebut sembari ia juga menyelesaikan pendidikannya di salah satu Kampus Swasta ternama di Jakarta Timur. S1 Teknik Mesin adalah jurusan yang ditekuni oleh Arif dan ia mampu menyelesaikan pendidikannya dalam waktu tiga setengah tahun dengan IPK Cumlaude. Hal ini tentu saja membuat keluarga sangat bangga kepadanya. Banyak sekali pretasi yang telah ia berikan bagi kampus dan perusahaannya. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan bapak angkatnya tersebut, dan memulai karirnya sendiri pada tahun 2016. Dengan bantuan dan juga dukungan dari banyak pihak Arif pun bangkit dan mengepakkan sayapnya. Ia mendirikan perusahaan yang bekerja dibidang Teknik Engineering dan pengadaan alat dan material konstruksi.

Lewat dari proses hidupnya yang tidak mengenakan tersebut ia dilatih menjadi seorang yang Professional dalam bekerja sampai akhirnya ia bisa menjadi seorang Direktur. Melalui pengalamannya menjadi seorang kuli berhasil membuatnya menjadi orang yang selektif dalam merekrut para pekerjanya, karena ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang kuli. Jadi ia mau semua pekerjanya memiliki mental yang kuat dan jujur. Sesosok yang berani membayar harga ini, mampu mendirikan karirnya diusia yang masih cukup muda bila dikatakan sebagai seorang Direktur.

Dari kisah ini kita bisa meneladani bahwa tidak ada yang mustahil selagi kita mau berusaha. Jangan mau kalah dengan proses, kita harus terus berjuang dan berusaha. Teruslah berkarya dan jangan takut untuk menjadi seorang yang berbeda. Berbeda dalam cara berpikir dan tindakan. Dunia mungkin akan menganggap kamu aneh dengan caramu, tapi ingat masih ada Tuhan yang selalu membela dan mendukung umat-umatnya. Albert Einstein said: “The more I Learn, The more I Realize, The more I do not know.” Terus maju dan jangan pantang menyerah. God bless you.

 

 

 

Semarang, 25 Oktober 2019

Identitas Penulis

Nama               : Yohana Setia Risli

ID Instagram   : @yohana_risli

No WA            : 082280751083

Alamat            : Dusun Karang Sari Rt. 02 Rw. 01 No.23 Desa Wonomarto, Kotabumi

  Lampung Utara.

Domisili          : Jl. Imam Bonjol No.15-17 Semarang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MALEFICIENT : The Untold Story - Cerita Dongeng Maleficient Yang Sangat Melegenda

Hal yang Dipersiapkan Untuk Menjadi Guru TK - Apakah Mudah Menjadi Guru TK ?

ANALYSIS CONFLICTS IN FILM "KNIVES OUT" STORY